30 November 2016

Zahid, seruan Allah SWT ialah 'amal makruf nahi mungkar' bukannya 'amal mungkar nahi makruf'

Ramai yang meminta saya untuk memberikan komen tentang seruan Zahid Hamidi kepada semua orang Umno untuk setia kepada Najib kerana Najib memegang jawatan Perdana Menteri itu adalah ketentuan Allah SWT. Katanya kita semua mesti setia kepada Najib kerana yang meletakkan Najib sebagai Perdana Menteri itu adalah Allah SWT.

Saya tidak berapa berani untuk membuat komen ini bukan kerana takut kepada kritikan yang datang dari orang yang jujur dan berilmu kerana jika kita mendapat kritikan dari yang berilmu kita akan mendapat pelajaran dan pengajaran yang baik yang boleh kita gunapakai dan amalkan. Yang saya takut ialah kritikan dari mereka yang tidak memahami asal kejadian kita dan kenapa kita di hidupkan oleh Allah SWT di dunia ini.

Saya membaca tulisan A Kadir Jasin dan saya bersetuju dengan pandangan dan pemahaman beliau. Hanya saya ingin menokok tambah apa yang saya rasakan perlu untuk memberikan pencerahan kepada Zahid yang nampaknya menggunakan Allah sebagai modal politik beliau dalam PAU kali ini.

Sebenarnya kita di hidupkan didunia ini hanya kerana satu sebab sahaja, iaitu untuk mengESAkan Allah SWT. Tidak ada sebab yang lain. Tuhan hidupkan kita bukan untuk meletakkan Najib sebagai PM semata-mata atau menjadikan Zahid Hamidi sebagai Timbalan Perdana Menteri yang memberikan ketaat setiaan 101 peratus terhadap Najib, ATAU pun dijadikan saya sebagai seorang pengkitik Najib bersama sama dengan yang lain terutamanya Dr Mahathir Mohamed.

Tuhan jadikan kita bukan semata-mata untuk menyokong mereka yang mencuri wang rakyat dan menipu orang ramai dengan berbagai-bagai muslihat. Tuhan tidak menjadikan Apandi Ali untuk melindungi kesalahan pimpinan yang melakukan kezaliman terhadap orang yang mereka pimpin.

Zahid sepatutnya tahu yang kita dijadikan oleh Tuhan untuk mengESAkanNya dengan melawan kezaliman dan tunduk kepada perintahNya dengan luhur dan jujur. Tuhan merupakan empunya segala-galanya dan apa-apa yang dijadikanNya itu untuk menduga sejauh mana kesetiaan kita terhadap keESAanNya. Kita di duga sama ada kita sanggup berkorban untukNya dari waktu kita lahir sampailah ke akhir kalam.

Kita di duga sama ada kita terpedaya dengan tindakan pimpinan dan sesiapa sahaja yang melakukan kesalahan terhadap Allah dengan memberikan sokongan terhadap mereka yang melakukan kemungkaran dan kemurkaan Allah itu. Zahid perlu tahu yang menentang Najib ini pun adalah mereka yang dijadikan Tuhan untuk menentang kerana mereka mahu menolak memerangi kemungkaran yang dilakukan oleh mereka yang dijadikan Tuhan untuk menduga ketaat setiaan mereka terhadapNya. Bukan begitu Zahid?

Tetapi tidak menjadi perkara yang menghairankan di akhir zaman ini terlalu ramai pengikut Abdullah bin Ubai dikalangan pemimpin yang memberikan sokongan palsu kepada pemimpin yang mereka geruni. Siapa Abdullah bin Ubai ini, pandai-pandailah mengenali siapa dia itu.Saudara tahu siapa Abdullah bin ubai tetapi kenapa saudara masih bersikap seperti dia itu?

Pendeknya kita kena fikir dengan akal anugerah Tuhan yang kita ini digerakkan Tuhan untuk melakunkan plot yang menduga atau di duga. Kita boleh menjatuhkan hukum bagi mereka yang menjadi penduga itu kerana kita semua tahu apakah yang akan mereka perolehi dari lakunan sebagai pencuri-pencuri dan penjenayah kepada umat itu.

Yang lebih teruk dan hebat bencana yang mereka perolehi ialah mereka yang menyokong dan mempertahankan kemungkaran dalam hidup ini. Dosa-dosa ini melibatkan dosa-dosa yang berkaitan dengan hablumminannas.

Pandangan saya mungkin disalahkan oleh setengah pihak tetapi  di yaumil mahsyar jugalah tempat penentuannya. Yang penting bagi kita jangan kita berdakwah yang kemungkaran dengan pencuri dan melakukan jenayah itu adalah kehendak Tuhan dan perlu di pertahankan dan memberikan ketaat setiaan kepada mereka. Sifat menggalakan kemungkaran itu adalah sifat mustahil bagi Allah SWT, pencipta alam semesta itu. Yang Allah SWT seru ialah perjuangan 'amal makruf nahi mungkar', bukannya 'amal mungkar nahi makruf'.

Agama kita menganggap mereka yang makan rasuah itu sama seperti mereka yang makan daging saudaranya sendiri, saudara Zahid! 

Sekian saudara Zahid.

29 November 2016

Najib will only destroy the nation, he is hopeless and should leave

I have not touched this writing machine for 2 months. I thought it would be good for me to recluse myself from commenting on political issues in this blog. However it is good to come back and just write some comments, not to get out of the updates far too long.

The situation now is very fluid in all turfs. We have all the reasons to get worried especially on the fall of the ringgit against most major and regional currencies. Ringgit seems to be the worst hit currency and if not accurately mitigated by the government it will bring serious and tectonic consequences to the nation and the people.

The self-consoling statements by Bank Negara and our half-baked leaders claiming that we have all the fundamentals strong and intact seem not to hold water. If it’s all strong and intact why is the ringgit disorderly falling? It has to have a cause for that. There must be a cause for a cause.

If all the economic fundamentals are strong but paralleled with the fall of the ringgit, can we suggest any other reason other than deficit in confidence towards our leadership of the day as the main cause?

The corruption issues that engulf our leaders especially on PM and the whole bunch of the legislatives and the civil service inevitably are the main contributing factors to the plunge of confidence towards this country especially from the foreign as well as the local investors.

The latest revelation of more than RM 800 billion debts is truly frightening and gruesome news for thinking Malaysians. This was the results of massive corruptions that prevail in all kinds of stripes and forms in the country. No investors and no business activities can be sustainable in this corruption infested country.

We are now stuffed with USD 128.2 billion in short-term external debts against the dwindling national reserves to USD 100 billion has a direct parallels to the fall of ringgit. The ringgit spot price closed at 4.47 yesterday and there is no indication that it will improve in the near foreseeable future.

With this environment it’s hard to believe the PM and the Finance Minister can address and mitigate this huge problem facing the nation. He can only help to destroy the nation. He should leave. The longer he stays on the deeper we are in trouble.

No one is going to pay any attention to his rhetorics in the upcoming Umno General Assembly.  

19 September 2016

Najib will lick his own wound ultimately

Umno is fast devastating and will soon be history if the party is not prepared to go for a change in its culture and attitude towards a proper and clean government and politics. Almost all leaders in Umno in particular the members of the Supreme Council are attacking the oppositions as Umno realizes that the party is expeditiously crumbling and fragmenting to ashes. The undeserving member of the council Ismail Sabri Yaacob and others are blaming the oppositions and Umno dissidents that they are all out to destroy their party, not Dr Mahathir or the oppositions.

All the self-seeking tones of bouts and attacks on the oppositions and towards the forming of the new Mahathir motivated party PPBM clearly reflect the real dreads of the party’s self-assurance in retaining power in coming general elections or even before that.

The Supreme Council members like Adnan Mansor, Nazri, Salleh Keruak and Ismail Sabri are among the leaders of the ailing party who keep on unfailing personal attacks on Dr Mahathir and the oppositions. All these personal assaults on the oppositions and the newly formed party PPBM are the illustrations of dreads of its capacity to retain power and Umno realizes the danger of losing grasp of power.

Umno leaders are blaming everyone other than themselves for their flaws and irretrievable weaknesses. They were the ones who turn Umno into a mediocre party with weak leadership with poor human values that has led the party to be impregnated with colossal corruptions and unrestrained abuse of power. Hence no one believes what Najib says and to the eyes and minds of Malaysians and global observers he has turned himself to be a legendary ‘stand-up’ comedian.  Nothing of his words is consumed and digests by anybody with sanity.

Don’t talk about Dr Mahathir’s sincerity for fighting against graft-laden PM, but the facts remain that Najib has given everyone reasons and causes for him to be removed from his current position just to save the country from further corrosion and desolations.

Najib fails to realize that those who oppose him in the open are not his danger-dagger but those who pretentiously support him are the ones who make him weak and fragile politically. He has his own Cabinet members who are in the talk with the oppositions to topple him systematically. Some of his Cabinet members are feeling the pulse that he is not anymore a viable leader for them to defend.

There is noticeable whispering among his Cabinet members admitting that Najib is too feeble for them to lean on. They believe that Najib’s days are numbered and these Cabinet members are not anymore interested to defend the PM but to defend what they had secured and accumulated from Najib all these years. They are more interested in keeping their personal interest than defending Najib whom they think is sinking politically.

This pretentious and superficial support for Najib is really hurtful for him. The silent insubordinations will eventually make Najib truly an orphanage leader in his own party and Cabinet a little while more and from then on nobody will pay any attention to him any longer.

Nobody can guess how is he going to end his life and by the way it goes Najib will never be able to retrieve his image as a respected leader and he will be morally in perpetual destitute.  We feel sorry for him but that was his own choice that nobody should be blamed for that state he will be in.

He will be alone like a dog licking his own wound ultimately.

10 September 2016

Jika benar Dr Mahathir melakukan onar............

Bahagian 2

Dari sekarang elok kita membuat keputusan dalam pemikiran kita yang isu 1MDB dan tindakan rasuah yang tidak terperi besarnya itu dilakukan oleh pimpinan kita yang bertanggungjawab keatas pengwujudan 1MDB itu. 1MDB itu seolah-olah sememangnya dari ‘day one’ telah wujud semata-mata untuk menyelongkar kekayaan negara kita untuk kepentingan kewangan dan sikap tidak bertanggungjawab pemimpin yang mewujudkannya.

Tetapi sebesar mana sekali pun isu 1MDB ini kita perlu memahami yang negara kita telah tidak terurus dengan baik sejak  tiga dekad dahulu. 1MDB hanyalah kemuncak kepada onar dan kesalahan pimpinan sejak tiga dekad itu dalam memimpin negara dan sikap minum sambil menyelam untuk kekenyangan tompolok masing-masing. Ada pemimpin yang menggunakan rasuah untuk mengekalkan kepimpinan tetapi jika kita selidik dengan baik, ada pemimpin yang boleh dirasuah untuk melayakkan jawatan bagi kepentingan perasuah yang mengambil alih kepimpinan itu.

Sejak tiga dekad dahulu tidak ada lagi semangat untuk menjayakan misi ‘nation building’ dan disebaliknya istilah ‘nation building’ itu ditakrifkan pembangunan fisikal dengan bangunan tertinggi di dunia, jambatan yang panjang-panjang dan tiang bendera yang tertinggi serta gong yang paling besar didunia yang pernah wujud diperkarangan angkasapuri suatu ketika dahulu.

Tidak mereka dan rakyat yang menyokong mereka itu sedar bahawa pembangunan fisikal itu merupakan sebahagian kecil komponan dalam konsep ‘nation building’ itu. Oleh kerana itu kita sudah hampir hilang identiti sebagai bangsa-bangsa timur seperti bangsa Melayu. Mereka lebih mengutamakan pembangunan material sehinggakan bangsa Melayu sudah tidak dikenali lagi. Mereka mengambil sikap identiti bangsa itu tidak penting kerana yang lebih penting ialah pembangunan material yang besar kepada setiap orang khususnya bangsa Melayu itu.

Mereka tidak menyedari bangsa Jepun bertambah maju tetapi tetap mengekalkan ciri-ciri bangsa Jepunnya. Budaya mereka tetap kekal walaupun sebesar mana sekali pun perubahan zaman dan waktunya yang melanda setiap manusia dari dulu hingga sekarang. Tetapi sebaliknya ciri-ciri Melayu kita sudah hilang hampir kesemuanya kerana mereka menganggapkan untuk maju kita perlu menghilangkan budaya dan ciri kemelayuan itu. Tetapi yang dicita-citakan untuk maju dalam segala bidang itu tidak juga tercapai dan sekarang bangsa Melayu masih jauh ketinggalan berbanding dengan bangsa-bangsa lain di negara ini. Akhirnya yang dikendung berciciran dan yang dicita-citakan tidak juga tercapai.

Yang jelas berkembang ialah budaya rasuah yang tidak terkawal kerana budaya baru untuk mengumpulkan kekayaan sudah menjadi budaya kita sekarang ini. Oleh kerana tidak ada kemampuan untuk menjadi kaya maka mereka menggunakan kuasa dan pengaruh politik yang mereka mahir untuk mengaut kekayaan itu tanpa memiliki moral dan nilai kemanusiaan yang baik walau kecil mana sekali pun. Memegang kuasa politik melalui parti politik tunggangan mereka sudah menjadi perkara yang sudah diterima dan dibudayakan oleh bangsa Melayu khususnya mereka yang mempunyai otot kuasa dan pengaruh besar dalam kerajaan. Kedudukan dalam kerajaan dan parti yang memerintah merupakan modal perniagaan mereka dan budaya rasuah itu adalah budaya yang sangat mudah bagi mereka mengaut dan membina kekayaan dan kuasa yang tidak terkawal itu.

Najib tidak mahu berundur sedangkan rata-rata rakyat mahukan beliau meninggalkan jawatan beliau diPutrajaya itu dan disebaliknya beliau melaungkan yang beliau disokong oleh partinya dengan kuat dan tidak ada sebab beliau untuk meletakkan jawatan. Beliau berkata yang beliau dipilih oleh rakyat tetapi itu tidak benar. Sesungguhnya beliau dipilih oleh parti-parti dalam komponen BN yang rata-rata memiliki budaya rasuah yang besar. Mereka lebih selesa untuk memilih seorang Perdana Menteri yang mudah dirunding tentang hal rasuah dan penyalah gunaan kuasa itu.

Belum lagi ada sejarah yang seorang Perdana Menteri dipilih secara ‘direct’ oleh pengundi-pengundi dalam persekutuan ini.  Itu sebabnya amat mudah bagi seorang Presiden Umno untuk mengekalkan kuasa kerana yang perlu dilakukannya ialah dengan menekankan pengaruh dan kuasa kewangan yang diperolehi melalui rasuah itu untuk memegang dan mengekal jawatan Presiden UMNO itu. Bangsa-bangsa lain seperti bangsa Cina dan India serta dayak dan bidayuh tidak pernah mempunyai peluang untuk memilih seorang Perdana Menteri di negara ini. Hanya segelintiran Melayu Umno yang boleh dibeli dan disogok sahaja yang berkuasa untuk menentukan siapa Perdana Menteri itu.

Itu sebabnya UMNO itu merupakan parti yang penting untuk dibersihkan kerana Presiden parti itu secara otomatik menjadi Perdana Menteri jika BN diberikan mandat dalam pilihanraya umum negara ini. Sekarang ini Umno telah gagal untuk mengenengah dan menonjolkan pemimpin yang dihormati dan boleh diyakini rakyat ramai yang sentiasa memerhati dan meneliti tingkah dan laku kepimpinannya. Sekarang Umno itu tidak lagi menjadi pembela rakyat malahan parti itu merupakan parti yang memusuhi rakyat kerana pimpinan parti itu sentiasa melakukan onar terhadap rakyat termasuk terhadap ahli-ahli partinya yang sentiasa memberikan sokongan kerana kenaifan mereka untuk memahami keadaan negara yang sebenarnya.

Umno tidak boleh lagi menjadi tunjang pemerintahan selagi pimpinan hari ini tidak dialih dan dianjak. Hanya dua pilihan sahaja yang ada kepada rakyat khususnya orang Melayu. Pertamanya menurunkan pimpinan hari ini secepat  mungkin dengan menggunakan apa sahaja ‘instrument’ yang boleh digunakan atau pimpinan itu sendiri berundur. Satu lagi pilihan ialah dengan menolak Umno terus dan jangan dibiarkan menjadi tunjang pemerintahan negara lagi.

Ramai pimpinan UMNO yang menyokong Najib secara membuta tuli berkata yang Najib akan hanya boleh diundurkan jika rakyat melakukannya dalam pilihanraya. Tetapi dengan cara ini bermakna mereka sendiri sudah tidak mahukan UMNO lagi kerana UMNO akan ditolak untuk menjatuhkan Najib dari terus memimpin negara. Jika mereka penyokong tegar UMNO sekarang ini, ‘argument’ seperti itu adalah ‘argument’ yang amat bodoh kerana mereka sendiri akan hanyut bersama Najib dan partinya nanti.

(bersambung)